Sabtu, 17 Desember 2011

Sejarah Masjid Jami Desa Kajen, Margoyoso, Pati Pertahankan keaslian bangunan

TIDAK ba­nyak masjid tua di Ka­bu­pa­ten Pati yang masih ter­lihat mempertahankan ar­sitekturnya yang kuno. Di antara sedikit masjid kuno yang masih di­pertahankan keasliannya ada­lah Masjid Jami Desa Ka­jen, Kecamatan Margoyoso, Pa­ti. Nuansa tempo dulu ma­sih terlihat pada masjid yang di­dirikan oleh KH Ahmad Muttammakin itu. Menurut pengurus masjid Desa Kajen, KH Muadz Thohir, renovasi ba­gian masjid terakhir kali di­lakukan pada tahun 1960-an. ”Saat itu hanya bagian sam­ping yang diperbaiki,” tu­turnya. Sementara itu din­ding ba­gian depan, sampai sa­at ini ma­sih tetap menggu­na­kan ka­yu. Bahkan sebagi­an kayu yang menjadi bagian ba­ngunan masjid, sudah ber­usia ratusan tahun. Meskipun sudah di­ma­kan usia, kayu yang mendominasi ba­ngun­an masjid masih terlihat cukup kuat. Mengkilap Selain banyak didominasi kayu, nuan­sa kuno pada bangunan Masjid Kajen juga bi­sa dilihat pada lantai masjid yang masih menggunakan tegel. Bentuk tegel seder­ha­na di masjid tadi telah berubah menjadi meng­kilap, karena umurnya sudah lebih da­ri seratus tahun. Tidak hanya bentuk bangunannya yang khas. Aktivitas keagamaan di Mas­jid Desa Kajen juga cukup berbeda de­ngan masjid kebanyakan. Salah satunya terlihat saat pelaksanaan salat ta­rawih yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama men­ja­lankan salat tarawih dengan ba­caan Alquran sebanyak sa­tu juz. Sedangkan kelompok ke­dua menjalankan salat ta­ra­wih di serambi masjid de­ngan membaca surat-surat pendek. Salat Jumat di masjid ter­sebut juga cukup khas. Kha­tib yang membacakan khotbah di Masjid Kajen biasanya menggunakan bahasa Arab pada semua bagian khotbah, baik khotbah pertama mau­pun kedua. Waktu khotbah bisanya juga lebih singkat, sehingga jamaah yang tidak segera datang ke masjid setelah mendengar adzan akan ketinggalan mengikuti salat Jumat. Selain untuk salat, di masjid tadi juga sering dijumpai sejumlah santri yang sedang menghafalkan Alquran. Menurut KH Muadz Thohir, saat ini Masjid Kajen dikelola Yayasan Pengelola Makam KH Ahmad Muttammakin. "Belum lama ini dilakukan perbaikan kolah (penampung air) yang menghabiskan ratusan juta, dananya juga dari pengelolaan makam," lanjutnya. Juk-pu.

0 komentar:

Poskan Komentar